Banyak cerita pilu pasca pemugutan suara 9 april lalu. Di kota Parepare, sejumlah warga menjadi korban kenekatan para caleg gagal. Tak hanya dicaci, rumah yang mereka tinggali pun digusur. Astagfirullah?
KORBAN CALEG. Suasan jelang pembongkaran rumah milik Sappe di Jl Titang Kelurahan Watang Soreang, Senin, 14 April.
SABIR dan Sappe adalah warga kota parepare yang harus membayar mahal perjuangannya membantu sang caleg. Sayangnya, baik Sabir maupun Sappe, keduanya beralamat di jalan Titang Gang Udang, Cempae, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang itu harus pasrah karena rumahnya digusur sejak sabtu dan senin, 12 dan 14 April.
Namun yang mengherangkan, sebab baik sabir maupun sappe sama-sama mengaku tidak punya perjanjian apa- apa dengan tim pemenang terlebih lagi calegnya. Karena itulah, sabir digusur sabtu, pekan lalu. Sedangkan rumah Sappe baru digusur Senin, 14 April atas desakan dari pemilik lahan yang merupakan relawan caleg partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hj Apriyani Jamaluddin.
Tentu saja, Sabir dan Sappe bersama keluarga, hanya bisa pasrah rumahnya digusur. Ironis memang. Apalagi Sabir telah tinggal di lokasi itu selama 27 tahun lamanya. 'Ya, inilah mungkin yang dibilang nasib, padahal kami sudah bekerja maksimal," ujar Sabir saat menyaksikan rumah Sappe ikut digusur , Senin 14 April.
Lalu bagaimana dengan cerita Sappe? Perempuan yang tinggal tak jauh dari rumah Sabir itu juga mengaku menjadi korban. Tidak jauh berbeda dengan Sabir, lantaran dia tak mampu memenuhi target suara di TPSnya, rumah Sappe juga harus lenyap di lokasi itu.
Pemilik lahan Rasmin, wanita yang menjadi anggota tim pemenangan Apriyani itu tidak menerima Sappe tetap tingal di lahan itu. Selain di anggap gagal membantu, ulah Sappe yang dituding sengaja menggembar-gemborkan itu dinilai Rasmi sudah kepalang basah.
" Kalau dia mau tempati lahan itu, dia ( Sappe, red ) harus bicara dulu sama saya. Siapa suruh dia panggil wartawan dan masuk koran mana masuk di TV lagi," ujar Rasmi menyampaikan kepada pihak keluarga Sappe setelah penggusuran kemarin.
Informasi yang berkembang di lokasi, Sappe dikabarkan telah menerima "Pemberian" dari tim pemenangan caleg tersebut.
Harapannya, Sappe dan keluarganya bisa membantu saat pemilihan. Belakangan diketahui hanya satu orang saja yang memilih sang caleg di TPS itu.
Entah sejauh mana kebenaran cerita itu, yang pasti Sappe kini mulai kebingungan akan tinggal di mana. Rumahnya yang menjadi saksi bisu perjuangannya membantu sang caleg kini telah tiada. Nasib ya nasib.
Tidak ada komentar: